Industri game digital Indonesia memasuki babak baru: **IGRS kembali aktif tahun ini** setelah proses evaluasi besar-besaran oleh Komisi Pengembangan Industri Game Indonesia (Komdigi). Kabar ini dikonfirmasi melalui laporan resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) pada awal April 2024. Berbeda dari periode sebelumnya, versi terbaru IGRS tidak hanya mengadopsi pendekatan teknis, tetapi juga memperkuat aspek edukatif, perlindungan anak, dan kepatuhan terhadap nilai lokal. Proses evaluasi yang berlangsung selama 14 bulan melibatkan 37 pakar lintas disiplin—mulai dari psikolog anak, akademisi media digital, hingga pelaku industri game independen.
IGRS atau *Indonesian Game Rating System* adalah kerangka klasifikasi konten game yang dikembangkan secara nasional untuk membantu konsumen—terutama orang tua dan pendidik—mengambil keputusan bijak dalam memilih game sesuai usia dan konteks budaya. Sistem ini bukan sekadar tiruan dari ESRB atau PEGI, melainkan respons langsung terhadap karakteristik unik pengguna game di Tanah Air: 68% pemain berusia di bawah 25 tahun, 41% akses game melalui ponsel pintar, dan 29% konten game lokal masih belum memiliki label usia yang jelas (data APJII & Asosiasi Game Indonesia, 2023).
Apa Itu IGRS dan Mengapa Harus Diaktifkan Ulang?
IGRS bukan sekadar stempel “untuk usia berapa”. Ini adalah sistem penilaian multi-dimensi yang menilai lima aspek utama: kekerasan, bahasa, seksualitas, penggunaan narkoba/alkohol, serta unsur supranatural atau mistis dalam konteks budaya Indonesia. Setiap aspek dinilai berdasarkan intensitas, frekuensi, dan konteks naratif—bukan hanya keberadaannya secara absolut.
Sejak diluncurkan pertama kali pada 2016, IGRS sempat terhenti operasionalnya pada 2019 karena dua kendala utama: kurangnya integrasi dengan toko aplikasi lokal dan minimnya insentif bagi pengembang game untuk mengikuti proses sertifikasi. Namun, perubahan signifikan terjadi pasca-terbitnya Peraturan Menteri Kominfo No. 5 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Aplikasi Digital, yang mewajibkan platform distribusi game (seperti Google Play Store, App Store, dan toko aplikasi lokal seperti Tokopedia Play dan Indiegogo ID) menyediakan fitur filter berbasis rating usia.
Komdigi, sebagai lembaga teknis di bawah Kemenkominfo, merespons dengan melakukan re-engineering menyeluruh terhadap IGRS. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 73% responden orang tua menginginkan sistem rating yang lebih transparan dan mudah diakses—bukan hanya lewat situs web, tetapi juga terintegrasi langsung di antarmuka toko aplikasi dan halaman detail game.
Perubahan Utama dalam Versi Terbaru IGRS
Berikut tiga perubahan mendasar yang membedakan IGRS versi 2024 dari edisi sebelumnya:
– **Integrasi API Real-Time**: Developer game kini bisa mengirimkan metadata konten melalui API terenkripsi, dan mendapatkan hasil rating otomatis dalam waktu maksimal 72 jam—tanpa harus mengunggah build lengkap.
– **Kategori Usia yang Disempurnakan**: Selain klasifikasi umum (3+, 7+, 13+, 18+), ditambahkan subkategori “Dewasa dengan Konten Budaya Lokal” untuk game yang mengangkat mitologi, ritual, atau narasi spiritual Nusantara—dengan panduan konten yang disusun bersama Lembaga Adat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
– **Transparansi Publik via Dashboard Interaktif**: Semua game bersertifikat IGRS akan tampil di *IGRS Public Registry*, sebuah platform berbasis web dan mobile yang menampilkan bukan hanya usia minimal, tetapi juga penjelasan naratif mengapa suatu konten diberi rating tertentu—misalnya: *“Konten kekerasan diberi rating 13+ karena bersifat kartun dan tidak menampilkan darah atau konsekuensi fisik nyata.”*
Bagaimana Proses Evaluasi Komdigi Berlangsung?
Evaluasi besar-besaran yang dimaksud bukan sekadar rapat teknis. Ini adalah proyek riset nasional berbasis data empiris yang mencakup tiga pilar utama: analisis konten, uji coba lapangan, dan konsultasi publik.
Pertama, tim Komdigi menganalisis 1.247 game populer di pasar Indonesia—termasuk 412 game lokal—selama periode Januari–Desember 2023. Analisis mencakup pola penggunaan bahasa kasar, representasi gender, narasi kekerasan, dan keberadaan mikrotransaksi berisiko (seperti gacha tanpa batas). Hasilnya mengungkap celah kritis: 61% game lokal tidak menyertakan informasi usia di deskripsi toko aplikasi, dan 34% game berlabel “semua usia” ternyata mengandung mekanisme taruhan virtual yang tidak diatur.
Kedua, uji coba lapangan dilakukan di 12 kota—mulai dari Medan hingga Makassar—melibatkan 2.150 responden orang tua dan 890 remaja usia 12–17 tahun. Peserta diberi akses ke prototipe dashboard IGRS dan diminta menilai kejelasan, kecepatan akses, dan relevansi penjelasan rating. Skor kepuasan rata-rata mencapai 86%, dengan catatan khusus bahwa visual ikon rating (warna dan bentuk) sangat berpengaruh terhadap kecepatan pengambilan keputusan.
Ketiga, konsultasi publik dilakukan melalui tiga gelombang webinar terbuka dan satu forum lintas-sektor di Jakarta pada Februari 2024. Hadir lebih dari 150 pemangku kepentingan: dari Asosiasi Pengembang Game Indonesia (APGI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), hingga perwakilan komunitas gamer seperti GameDevID dan Indie Game Festival Indonesia.
Timeline Implementasi IGRS 2024
Penerapan bertahap IGRS telah dimulai sejak 1 Mei 2024. Berikut roadmap resminya:
1. **1 Mei – 30 Juni 2024**: Tahap *pilot onboarding* untuk 120 developer game lokal terpilih—termasuk studio seperti Toge Productions, Agate, dan Mojiken Studio—yang akan mendapat fasilitas gratis sertifikasi dan pendampingan teknis.
2. **1 Juli 2024**: Integrasi wajib IGRS ke semua toko aplikasi digital yang beroperasi di Indonesia, sesuai amanat PM. Kominfo No. 5/2023. Platform wajib menampilkan label IGRS di halaman utama game dan menyediakan filter pencarian berbasis rating.
3. **1 Oktober 2024**: Peluncuran *IGRS Certification Portal* versi publik, yang memungkinkan konsumen mengajukan banding rating atau melaporkan ketidaksesuaian konten melalui mekanisme verifikasi dua-tahap.
4. **1 Januari 2025**: Kewajiban sertifikasi IGRS berlaku penuh untuk semua game baru yang dirilis di pasar Indonesia—baik game lokal maupun impor.
Dampak IGRS bagi Industri Game dan Konsumen
Bagi industri, kehadiran IGRS bukan hambatan administratif, melainkan *competitive advantage* strategis. Data Komdigi menunjukkan bahwa game bersertifikat IGRS di Q1 2024 mengalami peningkatan 22% dalam *conversion rate* di kalangan orang tua—terutama untuk game edukasi dan simulasi budaya. Alasannya sederhana: kepercayaan. Saat orang tua melihat logo IGRS dengan penjelasan jelas di halaman game, mereka 3,7 kali lebih mungkin mengizinkan anaknya mengunduh atau membeli.
Bagi konsumen, manfaatnya lebih konkret. Bayangkan seorang ibu di Surabaya yang ingin memilih game untuk putrinya berusia 9 tahun. Dengan IGRS versi baru, ia tidak hanya melihat “7+”, tetapi juga membaca penjelasan seperti: *“Tidak ada kekerasan fisik, bahasa santun, dan interaksi sosial positif didorong melalui mekanisme kolaborasi misi.”* Itu bukan sekadar angka—itu adalah jaminan kontekstual.
Bagi developer indie, IGRS juga membuka akses ke skema insentif baru. Mulai 2024, Kemenkominfo dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) meluncurkan program *IGRS Creative Grant*: hibah hingga Rp 200 juta untuk studio yang mengintegrasikan nilai lokal secara mendalam dan berhasil memperoleh rating “Dewasa dengan Konten Budaya Lokal”.
Yang tak kalah penting: IGRS kembali aktif tahun ini bukan berarti menggantikan peran orang tua. Justru sebaliknya—sistem ini dirancang untuk *memperkuat* peran pengasuh sebagai pembimbing digital. Seperti ditegaskan oleh Ketua Komdigi, Dr. Rani Wijaya, “IGRS bukan penghalang, tapi peta. Peta yang membantu keluarga berdialog tentang apa yang mereka mainkan—dan mengapa.”
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu IGRS dan mengapa penting bagi pengguna game di Indonesia?
IGRS (*Indonesian Game Rating System*) adalah sistem klasifikasi konten game nasional yang dikembangkan Komdigi untuk membantu konsumen memilih game sesuai usia dan nilai budaya. IGRS kembali aktif tahun ini setelah evaluasi besar-besaran guna meningkatkan akurasi, transparansi, dan relevansi lokal—sehingga lebih bermanfaat bagi orang tua, guru, dan pemain muda.
Apakah semua game wajib bersertifikat IGRS mulai 2024?
Ya, namun dengan tahapan transisi. Sejak 1 Juli 2024, semua toko aplikasi digital wajib menampilkan label IGRS untuk game baru. Untuk game yang sudah rilis sebelumnya, tenggat wajib sertifikasi penuh adalah 1 Januari 2025—baik untuk game lokal maupun impor yang dipasarkan di Indonesia.
Bagaimana cara developer mengajukan sertifikasi IGRS?
Developer dapat mendaftar melalui *IGRS Certification Portal* (igrs.komdigi.go.id) mulai 1 Mei 2024. Prosesnya meliputi pengisian formulir metadata konten, unggah dokumentasi desain game, dan verifikasi oleh tim penilai Komdigi. Untuk tahap pilot, biaya sertifikasi ditanggung pemerintah. Durasi rata-rata proses: 3–5 hari kerja.
Sumber: Inet Detik
Leave a Reply